Menata Kembali Makna Hidup
Loc: Deswita Pandan Sari, Jawa Tengah
Elangdaily-Semakin dewasa, makna hidup kian berubah, hal ini merupakan fase yang normal dalam kehidupan.
Namun, sebelum melangkah jauh tentang pemaknaan hidup itu sendiri. Ada baiknya jalan yang selama ini kita tempuh, baik dengan sadar atau dengan cara terbawa arus itu bukanlah hal penting untuk diperdebatkan.
Hal terpenting terletak pada seberapa besar keinginan kita untuk merubah itu semua sesuai dengan keinginan dan tujuan kita.
Berani intropeksi diri, berani mengatakan kepada diri sendiri bahwa yang dilakukan salah, dengan demikian diri ini akan merespon dengan positif bahwa hal itu perlu diubah.
Boleh terbawa arus kehidupan, namun bukan berarti mati. Terkadang kita perlu terbawa arus sebentar, hanya sebentar, Untuk sekedar melihat kondisi sementara, ambil jeda untuk istirahat sebentar.
Teringat akan hal yang disampaikan Buya Hamka melalui bukunya yang berjudul " 4 Bulan di Amerika".
Buya Hamka bercerita ketika beliau di Amerika serikat selama 4 bulan, Amerika yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang kita kenal sebagai Hak Asasi Manusia.
Amerika yang katanya negara paling toleran, negara yang paling adikuasa, negara yang paling bebas mengekspresikan diri sebebas-bebasnya.
Apa yang kamu cari di Amerika prof tanya seseorang.
Bukankah di Amerika itu sendiri banyak wanita yang tidak menutup aurat? Berpakaian seperti telanjang seperti kekurangan bahan? Apakah itu tidak mempengaruhimu? prof Buya Hamka lantas tersenyum, lalu berkata "engkau akan dipertemukan dengan apa-apa yang kamu cari".
seseorang itu lantas terdiam seribu bahasa, ia tertunduk diam mendengar balasan dari Buya Hamka. Ia tidak menyangka akan mendengar respon seperti itu.
Buya Hamka lantas melanjutkan kalimatnya, itulah pentingnya sebelum melakukan sesuatu, amalan itu bergantung pada niat, "Inna aqmalu binniat"
Sehingga apa yang kamu niatkan diawal sebelum melakukan sesuatu, maka ketika implementasi niat tersebut kita akan dipertemukan dengannya.
Sehingga dalam perjalanan hidup ini, semoga kita meluruskan niat kita, untuk apa sebenarnya perjalanan panjang ini dilakukan, jauh dari orang tua, sanak keluarga, teman dekat, orang tersayang yang kita tinggal.
Jika bukan kita niatkan semata-mata untuk mencari ridho Allah SWT.
Oleh: Muhammad Sahron
Comments