Perjuangan Melalui Segelas Kopi

Oleh : M. Sahron

Copyright Elangdaily | M. Sahron

      Yang terburuk dari adegan-adegan di panggung itu adalah orang menjadi begitu terbiasa dengan kebohongan sehingga mereka terbiasa melontarkan kekaguman dan bertepuk tangan. (Makelar Kopi)

Aku termenung lama membaca kalimat ini, masa iya? benarkah kalimat yang barusan dibaca. memori yang pernah terekam dikepala ikut berputar seperti mesin waktu. tapi ada benarnya pikirku. aku bahkan tidak terbiasa dengan kemunafikan orang-orang pada panggung sandiwara (dunia).



Judul "Perjuangan Melalui Segelas Kopi" akhirnya menginspirasiku, seperti rangkaian-rangakaian kebetulan yang terus beriringan, bertemu dengan orang-orang pecinta kopi, dikumpulkan oleh teman-teman yang suka ngopi. pada akhirnya takdir mempertemukan kami dengan pak Handoko sebagai cikal bakal munculnya "filosofi kopi"

dari film sangat oke, apalagi cita rasa yang dihasilkan dari kejeniusan beliau mengola kopi di salah satu cafenya di Blok M. "pernah baca bukunya Max Havelaar- Multatuli?" tanyanya kepada kami semua. kebanyakan dari kami hanya senyum dan saling pandang, merasa malu tidak ada yang tahu isi bukunya. padahal karya ini sangat berpengaruh terhadap perjuangan bangsa Indonesia di masa penjajahan Belanda.


Max Havelaar, ditulis oleh Eduard Douwes Dekker, mantan Asisten Lebak, Banten pada abad ke -19. Douwes Dekker terusik nuraninya melihat penerapan sistem tanam paksa oleh Pemerintah Belanda yang menindas bumiputra.

dengan nama pena Multatuli, yang berarti aku menderita. Dia mengisahkan kekejaman sistem tanam  paksa yang menyebabkan ribuan pribumi kelaparan, miskin dan menderita. Mereka diperas oleh kolonial Belanda dan pejabat pribumi korup yang sibuk memperkaya diri. 

Hasilnya Belanda menerapkan Politik Etis dengan mendidik kaum pribumi elite sebagai upaya "membayar" utang mereka kepada pribumi.

Kopi menjadi peran utama pada tulisan Max Havelaar bersama makelar kopi turut serta dalam perjuangan Dia menyuarakan kesengsaraan dan ketidakadilan. 

(Bersambung).....










Comments

Popular posts from this blog

Kesepian hanyalah produk penerimaan, Nyatanya diri ini berisik dengan pikiran kita

Pemberdayaan Nelayan dan Pasang Surut Kehidupan