Benarkah Ketika Kita Mengikuti Langkah-langkah Orang Sukses, Kita Akan Sama Suksesnya ?
Benarkah Ketika Kita Mengikuti Langkah-langkah Orang Sukses, Kita Akan Sama Suksesnya ?
Elang Daily- Siapa yang tidak ingin sukses bukan? Apalagi di usia muda. Banyak tips dan trik yang banyak kita temui di sosial media tentang cara-cara ini.
Atau kita sering menemukan di orang-orang yang mengaku menjadi crazy rich, hal-hal ini sering kami buat candaan seperti ini, "kamu hampir saja akan jadi crazy rich namun hanya kurang satu kata, kamu masih crazy rich nya belum," dan satu tongkrongan tertawa.
Saya pribadi tergugah untuk membahas buku yang baru beberapa waktu lalu tentang uang yaitu judulnya "The Psychology of Money" karya Morgan Housel.
Pada bab dua dalam buku ini membahas tentang keberuntungan dan resiko. Morgan Housel memberikan contoh dari seseorang yang tentunya semua orang pasti kenal, yaitu Bill Gates.
Keberuntungan Bill Gates menjadi salah satu orang terkaya di dunia saat ini adalah bukan hanya sebatas kerja keras dan akhirnya sukses.
Saya melihat penekanan kalimat yang coba di sampaikan Morgan Housel bahwa Bill Gates adalah orang yang beruntung dengan keadaan ekonomi keluarga yang terbilang cukup untuk memenuhi kebutuhannya dan berjumpa dengan teman sebaya yang sama-sama menyukai komputer.
Pada tahun 1968 di seluruh dunia kira-kira ada 303 juta orang yang umurnya masuk masa sekolah menengah atas, menurut PBB sekitar 18 juta orang di antara mereka hidup di Amerika Serikat, sekitar 270 ribu hidup di negara bagian Washington, sedikit diatas 100 ribu hidup di Seattle, dan hanya sekitar 300 yang bersekolah di Lakeside School.
Satu yang di antara sejuta siswa SMA bersekolah di sekolah yang punya kombinasi uang dan wawasan untuk membeli komputer. Bill Gates kebetulan adalah salah satunya.
Gates tak malu mengakuinya. "Jika tak ada Lakeside, tak bakal ada Microsoft", katanya kepada para lulusan sekolah itu tahun 2005. (the Psychology of Money, hlm. 17)
Saya ingin menarik benang merah pada kisah ini dan mengaitkannya pada ajaran agama Islam tentang rukun Iman yang keenam yaitu takdir baik dan takdir buruk.
Misalnya saja ada seseorang yang mengikuti salah satu contoh orang sukses yang sangat dikagumi, mengikuti tata cara seseorang itu mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, baik tata cara bertingkah laku, bertindak atau bahkan cara belajar dan ketika pada waktu tertentu kita melihat hasilnya apakah masa dengan seseorang yang sukses tadi.
Tentu saya meyakini kesuksesannya tidak akan sama persis 100%. Karena kondisi yang dialami jauh berbeda, tekanan yang berbeda, keadaan orang tua, lingkungan yang berbeda.
Kita bisa saja hampir menyerupai orang-orang itu, namun kita tidak menjadi diri kita sendiri, tidak menjadi orang yang orisinal seperti kata Adam Grant dalam bukunya, "Originals".
Ia juga mengatakan bahwa untuk menjadi sukses cukup lakukan dua hal, ikuti cara orang lain hingga mencapai sesuatu yang sama suksesnya, atau menjadi original dengan versi kita sendiri.
Namun, jika usaha sudah dikerahkan, doa sudah dipanjatkan, dan hasil belum dirasakan maka, disitulah kita yakin akan takdir dan ketetapan Tuhan.
"Sesuatu itu tidak akan tertukar, jika itu baik bagimu hal itu akan menghampirimu, namun jika tidak maka itu juga lebih baik bagimu. Allah Maha mengetahui sedangkan kita tidak"
Penulis: Muhammad Sahron
Comments
Chayooo...💪ngikutin jejak ibnu batutah dan bill gates kuys...