Filosofi Teras/ Stoicism sebagai Solusi Terhadap Pandemi Saat Ini Agar Kita Tetap Waras
Oleh: Muhammad Sahron
Siapapun itu, kaya atau miskin, berkuasa atau menjadi budak.
Semuanya bisa menggunakan filosofi teras/stoicism.(satupersen,2019)
Di jaman sekarang ini, dimana banyak sekali musibah yang terjadi,
bukan hanya musibah yang terjadi pada diri kita sendiri, namun di negara kita
Indonesia, Eropa bahkan dunia sedang mengalami musibah. Terlepas dari yang
namanya konspirasi atau apapun itu namanya, corona virus atau sering disingkat dengan
COVID-19 merupakan musibah yang sedang melanda masyarakat dunia. Kita sedang tidak
baik-baik saja sehingga sebagai manusia dituntut untuk befikir waras agar dunia
menjadi lebih baik.
Salah satu agar kita mampu menjadi lebih baik disaat sekarang ini
adalah dengan menerapkan filosofi Teras/ Stoicism dalam hidup.
Filosofi Teras/ Stoicism adalah aliran yang didirikan oleh Zeno of
Citium pada masa yunani kuno pada
periode Hellenistik yang ditandai dengan kematian Alexander the Great dan
meluasnya kekuasaan Romawi.
Filosofi ini sangat pupuler hingga saat ini karena tidak
bertentangan dengan ideologi lain dan relevan untuk semua orang. Ada 3 orang
yang membesarkan filosofi ini yaitu Marcus Aurelius merupakan Kaisar terbesar Romawi,
Seneca merupakan pejabat di Romawi, dan menjabat sebagai senator pada masa itu,
Dan terakhir Epictetus merupakan seorang budak. Berkat filosofi ini dia
dapat bertahan dengan waras terhadap
penindasan yang dialaminya.
Di Indonesia sendiri filosofi ini lebih dikenal dengan filosofi
teras yang diperkenalkan oleh Hendri Manampiring pada tahun 2019. Ada empat
prinsip dari filosofi teras/stoicism yaitu :
Pertama, Tuhan akan selalu care pada seluruh makhluk hidup
dalam bentuk apapun itu. Covid-19 yang sedang melanda dunia saat ini tidak
terlepas dari campur tangan Tuhan, namun bukan berarti Tuhan sedang tidak
peduli dan mengabaikan makhluknya. Kita lihat saja ditengah musibah yang sedang
melanda, ada saja tangan-tangan mulia yang rela menolong dengan penuh kerelaan
dan sepenuh hati, seperti Presiden Yunani, Katerina Sakellaropoulou memberikan
dua bulan gajinya untuk keperluan wabah virus corona. Nigeria dengan 43 menteri
kabinetnya telah menyumbangkan 50 persen dari gaji mereka untuk memerangi
pandemi ini. Perdana Menteri Malaysia Muhyidin Yassin bersama kabinetnya akan
memotong gaji 2 bulan kedepan sebagai upaya penanganan Covid-19 di Negeri Jiran
tersebut. Adapun Indonesia dengan semangat Pancasila, menerapkan sila ke 3
Persatuan Indonesia, saling bahu membahu untuk memutus mata rantai penyebaran
virus ini di Indonesia dan masih banyak lagi kontribusi orang-orang baik
lainnya. Ini merupakan campur tangan Tuhan melalui makhluk ciptaannya.
Kedua, bahwa hidup dengan penuh kebijaksanaan ataupun kebajikan,
itu penting untuk kebahagiaan kita. Sejalan
dengan poin pertama bahwa Tuhan itu care terhadap makhluknya, hidup dengan
penuh kebijaksanaan dan menebarkan kebaikan itu sangat memberikan dampak positif
terhadap diri kita sendiri maupun orang lain. Dengan memberi, rezeki kita
bertambah, orang yang kita bantu merasa senang dan dengan membantu orang lain
kita bahagia. Ditengah maraknya pandemi
virus corona, banyak kita jumpai orang-orang yang membagi masker secara
gratis kepada masyarakat, bukan malah menaikkan harga masker menjadi tidak
masuk akal. Ini penting dilakukan karena hidup bukan sekedar mencari
keuntungan, namun bagaimana kita sebagai manusia dapat memanusiakan manusia.
Ketiga, alam semesta bekerja dalam harmoni, dan kita harus hidup
harmonis dengan alam. Prinsip filosofi ini sangat erat kaitannya dengan pandemi
yang sedang terjadi saat ini. Banyak manusia yang bertolak belakang dengan
harmoni alam. kita seharusnya mengkonsumsi sesuatu yang memang pada umumnya
baik untuk manusia yang sudah disediakan alam ini. Bukan malah memakan hal yang
ekstrem dan tidak sewajarnya dikonsumsi manusia. Bukankah alam sudah
menyediakan banyak sekali hewan atau tumbuhan yang baik untuk untuk dikonsumsi
?
Keempat, semua hal yang terjadi pasti ada alasannya. Hal baik/buruk
pasti sudah diatur oleh satu kekuatan yang lebih besar dari segala yang ada di
alam semesta. Dengan demikian manusia yang memiliki akal dan pikiran, dituntut
untuk mampu berfikir rasional dan waras terhadap apapun itu yang terjadi di
alam semesta ini, tidak terkecuali pandemi yang sedang terjadi. Bukan saling
menyalahkan, mengambil momentum ini untuk ajang berpolitik, ataupun saling
menjatuhkan pihak yang tidak sejalan dengan kita.
Corona virus merupakan musibah bagi setiap manusia di negara
manapun yang harus dihadapi dengan akal yang rasional. Dengan berfikiran
demikian kita akan fokus kepada solusi-solusi yang dapat dilakukan. Bukan dengan
pemikiran irrasional yang cenderung menggunakan
perasaan, yang pada akhirnya kita akan menyalahkan keadaan dan mengumpat.
Nilai-nilai seperti inilah yang sebenarnya ditekankan dari filosofi
teras/stoicism. Kita mempercayai Tuhan dengan segala ketetapannya dan kita terus
memperbaiki pola perilaku dengan pemikiran yang rasional. Jadikan pandemi
corona virus ini sebagai langkah awal memahami harmoni alam yang banyak kita
langgar.
‘Hidup dengan emosi negatif yang
terkendali dan hidup dengan kebjikan.
Atau
Hidup bagaimana kita hidup sebaik-baiknya
seperti seharusnya kita menjadi manusia
(Hendri Manampiring,2019)

Comments