Perjalanan ke Bukit Indah Simarjarunjung (Danau Toba)
1
’’Lang’’
’’Elang’’
Hei, Lang!”
Aku mengusap mataku perlahan, ada apa gerangan malam-malam begini Emak begitu keras suaranya. Jika tetangga kami dekat, tentunya mereka pasti berhamburan untuk melihat kejadian dirumah ini. Untung saja tetangga kami berjarak kira-kira 50 meter. Belakang rumah ditumbuhi pohon pisang dan sanggar-sanggar[1] Sehingga suara Emak dapat diredam oleh berbagai macam tumbuhan itu.
Aku menguap beberapa kali dan berusaha berjalan agar tidak menabrak lemari yang berada tepat disamping kanan pintu. Aku keluar dari tempat persembunyianku. Ruangan 3x4 meter dengan beberapa rak buku dan bantal yang sudah terukir lukisan indah membentuk pulau sumatera.
’’Iya Mak.”
Jawabku, sambil menggerutu dalam hati. Ternyata kelima temanku: Adit, Ali, Bobby, Fauzi, dan Vai. Sudah hampir setengah jam menungguku. Aku tertidur, sehingga Aku lupa akan janjiku kepada mereka, bahwa malam ini Aku dan teman-teman akan berangkat ke “Bukit Indah Simarjarunjung”. Dari raut wajah mereka, Aku yakin jikalau pada saat itu Emak memanggilku dan Aku tidak terbangun, pasti mereka berangkat tanpaku.
Aku bergegas mempersiapkan segala sesuatuku untuk 3 hari kedepan. 20 menit berlalu, kami sudah berada didalam mobil Avanza hitam, yang disewa siang itu. Genap 10 orang, kami berada didalam mobil, Aku, Ali, Adit, Bobby, Fauzi, Vai, Paris, Rido, dan Jalil. Aku lupa mengatakan sesuatu, bahwa Adit, temanku, dihitung dua. Dengan badan yang paling gemuk mirip dengan pemain smack down[2]. Pembawaannya sangat lucu, sehingga jika kamu bertemu, pasti gemas melihatnya, akan tetapi kursi untuk 2 orang habis untuk badannya semua, untuk hal ini tidak lucu bagi kami, ’’sempit!’’
***
Aku tertidur lelap. Angin yang masuk bersama butiran air melalu jendela mobil, membuatku terbangun dan menerpa wajahku. Mengingatkanku kepada seseorang, sifatnya dingin terhadapku, sesuai dengan keadaan saat ini, begitu dingin, hingga merasuk sampai ke tulang, dan mengusik hatiku.
Mataku melihat pemandangan melalui kaca mobil, penampakan alam yang begitu asing. Air yang begitu jernih, ditambah dengan burung-burung bangau berterbangan kesana kemari mencari makan, dan gonggongan anjing peliharaan. Kutegakkan badanku, serasa remuk akibat terlalu lama tidur dengan posisi duduk. Kulihat kesegala sisi mobil, di bagian depan, tepatnya dibagian supir. Aku tidak melihat Ali, karena terakhir, aku lihat dia pada malam saat berangkat dari rumah. Kanan kiriku hanya tumpukan tas yang tidak beraturan. Kucoba meregangkan otot-otot kakiku dengan meluruskannya kedepan dan keluar dari mobil. Ternyata teman-temanku sudah dulu menikmati sejuknya udara pagi di tepi danau toba, ditemani dengan beberapa gelas kopi dan teh hangat. Aku menghampiri mereka, teman-temanku tertawa karena ekspresi wajah kekesalanku terhadap mereka.
***
“Subhanallah[3]’’
Ucapku dalam hati.
Aku tertegun takjub. Aku tidak habis habisnya komat-kamit dalam hatiku, “betapa indahnya ciptaan tuhan ini”, membuatku terpaku cukup lama. Seumur-umur baru ini Aku menginjakkan kaki ditanah ini, tanah yang tidak jauh beda dengan tempat tinggalku, akan tetapi disini memiliki kesan yg sangat berbeda. Jikalau aku diberi pilihan, menatap bidadari atau danau Toba, tentunya tanpa fikir panjang, aku akan memilih danau ini, danau terbesar di Indonesia dan Asia bagian Tenggara.
Suara kapal feri menderum-derum, kami tepat berada diatas permukaan danau Toba menuju pulau Samosir. Kapal feri memiliki ruangan tingkat dua, tingkat pertama tempat segala jenis kendaraan darat yang ingin menyebrang, sedangkan tingkat yang kedua, tempat aku berada sekarang bersama dengan teman-temanku. Ruangan yang tidak begitu besar dengan kursi tiap tiap penumpang. Disudut ruangan terdapat meja yang melingkar yang diatasnya terdapat botol minuman, aku yakin dan tak salah lagi itu adalah Bar, tempat minum-minuman yang beralkohol ala barat. Tepat disebelah Bar tersebut terdapat ruangan dengan 2 orang. Aku yakin salah satunya adalah Nahkoda kapal, berada didalamnya, Aku dan Teman-temanku mencari tau apakah kegunaan dari peralatan tersebut, sambil terkagum kagum melihat cara kerja mereka, dan membayangkan diriku berada didalam sedang memainkan kendali kapal, entah apalah namanya, “aku tidak paham”.
Siapa yang tidak mengenal Pulau Samosir, dengan keindahan Alamnya, menyihir para wisatawan agar berlama-lama tinggal di daerah ini. Aku sempat “bingung”. Hanya sedikit aku melihat penduduk lokal. Serasa berada jauh diluar Indonesia. Bule-bule hilir mudik kesana kemari, Rambut blonde terjuntai sampai ke punggung, wajah putih memerah. Tinggi badan yang proporsional, sangat berbeda dengan tinggi badan pribumi kebanyakan, dengan bahasa asing mereka. Aku dan teman-teman saling pandang kebingungan, tiba-tiba vai tanpa diberi aba-aba langsung berkata,
”can you speak english mrs” ?
”Ohh yes, of course”
Alhamdulillah, batinku. Ternyata bule cewek ini bersama teman laki-lakinya. Mereka berasal dari Austria. Pantas saja kami tidak paham pada saat mereka bercakap-cakap dengan bahasa kenegaraan mereka.
One,two,three, cekrek-cekrek[4]
Kami menahan tawa”
Ternyata Vai hanya modus untuk menyapa, dia menyuruh bule tersebut untuk mem-foto kami. Hahahah, lucu memang. Perhitunganku ada 6 bule yang kami hampiri. Pertama dan kedua yaitu Sepasang bule yang baru aku ceritakan tadi. Berasal dari Austria, fasih dalam berbahasa inggris, dan Alhamdulillah, kami masih paham apa yang mereka katakan. Ketiga dan keempat, 3 cewek bule. Antara ingin menutup mata dan mengucap “astagfirullah” atau Alhamdulillah. Aku tidak paham dengan hatiku saat ini yang saling bertolak belakang, akhirnya malaikat dalam hatiku memenangkan pertempuran ini, kukubur niatku dalam-dalam untuk menghampiri ketiga wanita bule ini. Vai, Jalil dan Fauzi yang terlihat semangat, berlalu begitu saja meninggalkan kami. Tanpa menghiraukan teman-teman yang lain sebenarnya ingin mengambil foto bersama. Kami tertawa terbahak-bahak, pada saat ketiga temanku ini kembali ke mobil dan memamerkan foto mereka bersama ketiga bule tersebut. Giliran Vai yang bercerita. Memperlihatkan foto dirinya berada ditengah, antara ketiga cewek bule itu. Dengan raut wajah yang dibuat sedemikian rupa, dan gaya bicara yang lucu, jari telunjuknya diarahkan kelayar kamera DSLR, tepat di wajah bule paling ujung dari layar sebelah kanan. “Ini istri pertamaku”
Katanya,
Dengan logatnya yang sok serius. bule yang ditunjuknya memiliki wajah lonjong, hidung mancung, rambut pirang sampai ke bahu, kulitnya putih dan tinggi badannya melebihi dari temanku Vai. Sambil “bercerita” tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah dan memelas. Dia berkata, “sayangnya kami belum dikaruniai anak”. Sontak seisi mobil meneriaki dirinya dan cekikikan. Ali yang sedang menyetir ikut terbawa suasana dan tertawa paling keras. Hampir saja kami menabrak rumah makan khas batak yang berada ditepi jalan. Terlihat ibu-ibu teriak gak jelas kearah kami. Mungkin itu pemilik rumah makan. Muka Ali memerah dan langsung menancap gas dengan ketakutan. Kami tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajah temanku ini.
Bule yang kami jumpai kelima kali yaitu wanita juga, pahamlah didalam mobil, semua cowok normal, “hehehe” makanya pada ke cewek bule semua. Namanya jennifer, tinggi badan gak jauh beda dengan wanita indonesia pada umumnya.kulitnya putih, terdapat bintik-bintik merah. Dalam hati aku berkata ”pantas saja mereka meyukai warna kulit yang sawo matang ini,” sehat kelihatannya. Dengan kaos oblong dan celana jeans, robek bagian lututnya. Dikepalanya menempel topi coboy hitam, dan ditangan kirinya menjinjing ransel.
Bobby yang bahasa inggrisnya agak lumayan dari kami, langsung saja komat-kamit, tidak lama berselang, bule ini naik ke mobil. Aku dan teman-teman yang lain terkejut. Dengan keadaan kami didalam mobil seperti ikan sarden yang disusun, ditambah lagi dengan wanita bule ini. Terpaksa Aditlah yang menjadi korban. Aku suruh dia mengempiskan perutnya, agar si jennifer dapat masuk ke dalam mobil.
Terakhir, bule yang kami ajak ngomongin yang gak jelas berasal dari Jerman. Sama seperti impianku ingin ke negara tersebut, aku sangat senang dapat bertemu dengan orang Jerman, walau belum dapat menginjakkan kakiku kenegara teersebut, lumayanlah dapat bertemu orang Jerman asli. Dia sangat tinggi, dengan badan yang kurus seperti tiang berjalan, “hehe”. kepala kami semua hanya sebahunya, rambutnya Blonde, gondrong plus keriting. Kalau anda suka bola, dia mirip pemain sepakbola Real Madrid. Marcelo. Seperti itulah gambaran rambutnya. Dia ramah dan mau membagi waktunya dengan kami yang gak jelas ini.
Aku dan teman-teman banyak mengolok-olok bule Jerman ini pakai bahasa Mandailing, tentu dia tidak tau. Adit dengan gayanya sok memberi jempol kepada bule Jerman ini, sambil berkata, “ nabauan obukmu, nabauan obukmu”[5]. Sambil terus saja mengacungkan jempol. Aku dan teman-teman tertawa terbahak-bahak,bule jerman ini terlihat kebingungan, disertai senyumnya yang hambar.
Akhirnya sampai juga di Bukit Indah Simarjarunjung batinku.Dari atas sini, angin yang begitu semilir merasuk ke pori-pori wajahku, serasa dingin, seperti yang aku rasakan saat ini. Kanan-kiri dipenuhi dengan pohon jati, ada yang tumbang atau mungkin sengaja ditebang. Di depan tempat aku berdiri, terdapat pohon hutan yang diatasnya ada seperti panggung, dibuat oleh pengelola tempat wisata ini. Sesekali Aku memandang ke arah kapal yang berjalan di permukaan air danau, seperti slow motion saja. Aku yakin kapal tersebut melaju dengan kecepatan tinggi, hanya saja, karena aku memandang dari atas sini, dari atas bukit. Kapal itu perlahan mengecil dan mengecil hingga sebesar kotak korek api. Akhirnya menghilang dari pandangan mata. Aku teringat akan hubunganku dengan Icha, adek kelasku saat di SMA. Semoga dia berubah dari sifat dingin dan kekanak-kanakannya. Aku ingin mengajakmu Icha ketempat ini dengan bahagia, bukan seperti yang aku rasakan saat ini. Liburan dengan teman-temanku tidak Ku nikmati sepenuhnya, ketika Aku ingin melupakanmu sejenak, malah memoriku bermunculan tentangmu, mengalir deras seperti air. Aku mengumpat dalam hati, mengapa Aku terlalu bodoh, bahkan Aku tidak mampu melupakanmu hanya sesaat. Aku tidak yakin, kamu juga memikirkanku, Hampir dua tahun kita bersama, tentu Aku sangat mengenal dirimu. Mengenal bagaimana kau memperlakukanku saat aku senang, sedih atau bahkan pada saat sekarang ini.
***
Semua kejadian 6 bulan yang lalu, masih jelas melekat dikepalaku, peristiwa yang membuat seluruh organ tubuh lemas tanpa energi, lunak tanpa tulang. Membuat jiwa siapa saja yang merasakan hal itu, akan melakukan hal demikian terhadap jasad. Hanya dua kata yang membuat itu kenyataan. Yaitu, ”Patah Hati,”
Pesan singkat yang dikirim Icha sangat mengejutkan hati dan perasaanku. Entah mengapa Aku langsung panik dan frustrasi, tak tau harus melakukan apa. Aku membuka aplikasi BBM di handphone android.
PING!!!
PING!!!
PING!!!
Tak ada balasan,”
Setiap menit mataku tertuju kelayar handphone, akan tetapi satu jam aku menuggu tak ada balasan apapun. Aku sempat mencari penjual pulsa di malam yang selarut ini. Kulihat seluruh kios-kios penjual pulsa sudah tutup, hanya satu harapanku yaitu, pergi kepusat kota. Selang 30 menit aku sudah didalam kamar dengan badan yang menggigil kedinginan oleh angin tengah malam.
Kuberanikan menekan tombol telepon untuk menghubungi Icha, akan tetapi nomornya tidak aktif. Tanpa fikir panjang, kukirim pesan singkat kepada Melati, kakak kandungnya Icha.
Kak, Ichanya ada” ?
Sudah tidur dia dek”
Mana mungkin aku percaya akan balasan Melati, kakaknya. Mereka sekongkol, Aku yakin itu. Malam itu sangat dingin, dingin sekali. Aku bahkan terjaga semalaman memikirkan hubunganku dengan Icha. Mungkin kalian akan mengatakan bahwa, sebagai laki-laki, tidak pantas terlalu berlebihan terhadap wanita seperti itu. Akan tetapi kalian salah besar. Setiap orang berbeda dalam mengartikan cinta. Cinta yang aku miliki saat ini bersama Icha adalah cinta kepada Adek kelas dan sekaligus kekasih. Aku tidak paham, mengapa jika pada saat disekolah Aku selalu berusaha melindunginya, toh dia hanya adek kelas yang tidak peduli terhadapku”, ucapku dalam hati.
Prak!!!
Prak!!!
Bobby memukul ku dengan keras,
Aku meringis kesakitan di bagian punggungku,
Hai...,” kok melamun sih,” kata Bobby, Enggak ada kok,” jawabku singkat, ingin Aku membalas, akan tetapi kuurungkaan niatku, dan Bobby berlalu bersama teman-teman yang lain. Kucoba untuk lebih menikmati liburan ini daripada hanya memikirkan Icha. Hai tunggu,” kataku,” Aku berlari mendekati mereka yang asik berfoto bersama

Comments