Antara Cinta dan Ketakutan
Kepada: Tuan Putri 23 y.o
Inginku tertawa dalam gelap, namun tak bisa disini terlalu terang.
Inginku menangis ditengah hujan, namun tak bisa, disini terlalu terik.
Aku terlalu naif dan sangat posesif denganmu.
Seorang gadis, anak terakhir di keluarga yang dibesarkan oleh seorang bidadari, hanya sendiri, mengurus dua tuan putri nan cantik dan cerdas.
Aku beruntung dapat mengenal salah satunya, dia juga demikian, beruntung memilikiku, katanya.
Mungkin kalian mengira ini hanya gombalan semata, namun bagiku ini adalah ungkapan perasaan tentang kedalaman hati, tentang seorang pria yang mencintai salah satu dari tuan putri.
Semakin aku menjalin hubungan dengannya, semakin parah hatiku bergejolak.
Angin tornado, gelombang pasang surut silih berganti.
Marah, benci, suka, cinta, sayang, kesal, atau apalah namanya.
Tuan putri yang sedang meniti karir di salah satu company yang ada di kotanya, sedangkan aku, bukan pangeran, bukan bangsawan, bukan saudagar, berani-beraninya jatuh cinta sebelum mapan, jatuh hati sebelum mampu memberikan jabat tangan kepada wali,
Yah benar… wali dari tuan putri.
Namun untuk apa takut akan cinta, untuk apa takut kepada penderitaan karena mencintai makhluk dari sang Pencipta?
Aku beruntung telah mengenal dia Tuhan, aku mohon gariskanlah takdirku dengannya, aku mohon pertemukan aku dengan dia dalam keridhoan-Mu,
bukankah Engkau telah berjanji bahwa Engkau dekat kepada hambamu, Engkau adalah sebaik-baiknya pengabul doa.
Penulis: M.S
Comments